oleh: sofwan{kalipaksi}
“Le….kamu mau ke sekolah seperti mau nonton bioskop. Wangi tenan kowe le….?”
“Mbok…mbok. Saya ini kan mau jadi seperti Bung Karno. Pintar tapi perlente. Necis itu kan tidak diharamkan, tho…mbok?” Lagipula, alasan si Mbok memberi nama aku Karno kan supaya aku bisa seperti Bung Karno. Bukan begitu, Mbok?
“Kamu ini memang pintar berkelit. Yo wess sana, cepat pergi.
***
Karno mengayuh sepeda ontel merk Gazelle kuno yang setiap pagi selalu ia kilapi dengan semir besi. Yeah….sebagai seorang ontelis, Karno memang nyentrik. Bahkan, ia pernah punya tiga sepeda ontel. Selain Gazelle, yang kini menjadi satu-satu ontel miliknya, kedua ontel lainnya yang sudah ia jual bermerek Batavus dan Humber.
Jika dihitung dengan nilai antik kedua sepeda ontel itu, sebenarnya tidak setimpal dengan alasan Karno menjual kedua ontelnya. Bayangkan, ontel Batavus kunonya itu dijual hanya untuk modal berburu murid baru di sekolahnya, seorang perempuan manis, yang segera saja menjadi kembang sekolah. Sedangkan, ontel Humber-nya ia jual hanya untuk mendapatkan cinta anak Pak Cantrik, juru tulis yang tinggal di tenggara desa.
Begitulah, Karno memang seorang playboy, yang nyentrik dan cukup rupawan.
***
Sekarang, Karno sedang menjomblo. Si kembang sekolah sudah memutus cintanya kepada Karno. Perkaranya sepele, Karno ternyata tak setajir yang dikira. Begitu belang Karno, yang hanya anak seorang anak janda ketahuan, si perempuan berpaling dari Karno. Sedangkan, anak perempuan Pak Cantrik tak berani meneruskan asmaranya dengan Karno karena diancam Bapaknya.
“No….Bapakku marah jika aku pacaran dengan kamu. Soalnya, Bapak bilang kamu itu playboy.”
“Kenapa harus malu. Lha wong, Bung Karno saja terus terang kok menjadi playboy. Bung Karno ndak pernah menutup-nutupi jika ia itu seorang playboy. Ia seorang playboy sejati, playboy budiman yang begitu menghormati martabat perempuan,” jawab Karno sejam sebelum putus cinta.
“Ia ndak seperti, playboy-playboy elite zaman sekarang yang menutup-nutupi lelaku playboy-nya. Diam-diam; sembunyi-sembunyi. Ah…ndak gentle.”
“Ya … tapi itu kan Bung Karno. Orang besar. Lha, kamu itu kan cuma seorang pemuda ndeso, No. Lulus sekolah pun belum. Apalagi jadi insinyur seperti beliau. Sudahlah, No…. aku sudah bulat. Kita putus!!!”
“Yo wess … aku ikhlas. Kita putus!!!”
Di dalam hati, suara tersembunyinya berkata, “No… sebagai playboy sejati ndak usah pusing. Masih banyak perempuan lain. “
***
Belasan sudah, Karno gonta-ganti teman dekat perempuan. Selain dua perempuan istimewa tadi, Karno tak perlu menjual sepeda ontel. Cukup dengan tebar pesona dan menggombal setinggi gunung. Apalagi, wajahnya cukup rupawan. Konon, ia keturunan seorang anak haram hasil perselingkuhan letnan kumpeni dengan putri seorang bekel desa di masa penjajahan silam. Jadi, wajar jika hidung Karno sedikit agak mbangir. Juga, kulitnya yang putih bersih.
“Mbok… ontelku mau aku jual”
“Ojo… Le. Itu kan ontel peninggalan bapakmu. Dulu, itu ontel kesayangannya. Sewaktu kamu jual dua ontel antikmu yang lain, si Mbok ndak keberatan. Tapi, ontel yang tinggal satu, jangan dijual ya. Dulu, waktu si Mbok pacaran dengan almarhum bapakmu, si Mbok sering mbonceng”
“Tapi … Mbok, aku perlu uang”
“Untuk apa, No? Buat merayu siapa lagi?”
Selama ini, si Mbok sebenarnya sudah tahu kelakuan anak semata wayangnya yang playboy itu. Namanya juga anak tunggal, si Mbok sepertinya terlalu mendiamkan. Tampaknya, si Mbok terlalu memanjakan Karno.
“Tari …..”
“Ya, namanya Tari, Mbok. Ia mirip sekali Dewi Soekarno. Ia penyanyi organ tunggal di desa kita. Mbok, aku tergila-gila padanya.”
“Kenapa harus dia, No?”
“Karena dia cantik, Mbok. Dewasa dan pandai ngemong. Aku bosan pacaran dengan perempuan seusiaku.”
“Ndak, No. Kali ini si Mbok tidak setuju. Ndak ada lagi ontel yang terjual. Apalagi untuk perempuan lonte seperti dia”
Rupanya, si Mbok mengenali reputasi Tari. Selain sebagai penyanyi organ tunggal, kasak-kusuk orang desa berbunyi: “Ssssst….. Tari itu ternyata nyambi menjadi lonte.”
“Ndak….No. Tobat, No. Kamu ini masih anak sekolahan. Mbok ya … pacaran dengan anak seusiamu.”
“Aku bosan, Mbok. Mereka terlalu manja. Berbeda dengan Tari. Cintanya tulus, Mbok. Ia perlu uang untuk membayar hutang-hutangnya sehingga ia tak perlu lagi melonte. “
“Ndak….No.”
“Mbok, jika dulu ontel ini menjadi simbol cinta kasih si Mbok dengan almarhum Bapak. Biarlah, ia juga menjadi simbol pengorbanan kasihku untuk Tari. Mungkin, itu sudah menjadi takdirnya, Mbok. Takdir yang menjadikannya sebagai monumen cinta, Mbok.
“Ndak….No. Si Mbok ndak ikhlas,” kali ini bendungan air mata si Mbok akhirnya bobol. Si Mbok pun menangis tersedu-sedu.”
***
“Tari, kumohon …lepaskan anak saya. Jangan racuni ia dengan rayuanmu yang berbisa itu. Demi saya …. janda tua, yang sudah mulai merenta ini. Hentikan cinta terlarang ini, Tari. “
“Tapi….Bu, saya menyayangi anak Ibu. Meski ia masih begitu muda, ia begitu pandai menghargai saya. Ia menjadikan saya sebagai perempuan yang bermartabat. Senyumnya, mengingatkan saya kepada lukisan yang tergantung di beranda rumah kami. Ya…. lukisan orang yang memproklamirkan negeri ini.”
“Tapi, ia terlalu muda untukmu. Tidakkah bisa kau cari saja laki-laki lain?”
“Baiklah …. Bu, saya akan mencoba untuk menjauh darinya. Demi Ibu, juga demi Karno.”
***
Karno tampak ceria. Saku kiri celananya tampak menebal. Rupanya, ia simpan uang hasil penjualan ontel terakhirnya itu di sana. Ia sudah mantap. Si kuno Gazelle ia jual dengan harga selangit kepada seorang pengusaha kaya penggemar ontel. Kebetulan, sehari sebelumnya, di pasar antik yang ada di sebelah barat alun-alun kecamatan, si pengusaha kaya asal kota itu sedang mencari sepeda ontel antik. Yo wess, sumbu ketemu tutup.
“Mbak Tari….ini aku datang. Aku bawa segepok uang untukmu. Ini bukti bahwa aku cinta kamu.” Cinta? Halah, No…. kamu ngegombal lagi.
“Tari sudah ndak ada. Tadi, pagi-pagi sekali ia berangkat ke kota. Ia titip surat untukmu, “ kata Ibu Kos, tempat Tari selama ini tinggal.
Bunyi surat yang hanya separagraf itu:
“No…. terima kasih atas pengorbananmu. Aku dengar kau akan jual ontel kesayanganmu dan si Mbok hanya demi aku. Jangan, No. Itu tidak sepadan. Aku telah bayar hutang-hutangku dengan hutang baru. Aku telah gadaikan diriku kepada seorang duda kaya dari kota. Aku akan mengabdi kepadanya. Ia bilang, aku hendak ia jadikan isteri simpanan. Aku rela. Setidaknya, aku punya masa depan meski menjadi isteri simpanan. Jangan susul aku.”
***
Delapan bulan telah berlalu.
Karno sudah mulai melupakan Tari. Uang hasil penjualan ontelnya masih utuh. Ia bertekad untuk menebusnya dari pengusaha kaya asal kota itu. Tapi, ia tak tahu harus pergi ke mana. Karno hanya bisa berjanji. “Mbok, ontel nostalgia itu pasti kembali. Saya janji.”
Tiba-tiba ….
“No…. ada tamu dari kota. Katanya ada kiriman untukmu.”
“Mbok…. ontel kesayanganku kembali,” Karno berteriak senang.
Si kurir pun memberikan sepucuk surat dari kota.
Bunyi surat yang juga hanya separagraf itu:
“No…. ternyata suamiku yang membeli ontelmu. Jadi, kukirimkan kembali ontel kesayanganmu. Semoga, dengannya engkau bisa segera kembali memburu cinta sejatimu. Dariku, Tari”.
***
Tak terasa, tiga windu telah berlalu. Sebuah ontel tua merek Gazelle terpajang rapi di dalam etalase kaca, di pojok sebuah rumah yang cukup mewah. Karno kini telah menjadi seorang pengusaha kaya. Juga, seorang politisi handal.
Selepas lulus sekolah di desa, ia menyusul Tari ke kota. Di kota, ia tetap menjadi playboy tulen. Betapa tidak, ia bisa membuat anak tiri Tari, dari isteri pertama suaminya, yang dulu membeli ontel kepunyaan Karno, jatuh ke pelukannya. Bahkan, hingga ia memperistrinya dan mewarisi sebagian kekayaan mertuanya.
Karno tak lagi mengayuh ontel tuanya. Sebuah sedan mewah merek Audi kini menjadi tunggangannya.
“Malam ini kemana, Pak?” tanya supir pribadi Karno.
“Kita jemput Siska dulu. Terus kita ke Puncak. Ini uang sumpal mulutmu. Jika Ibu tanya, bilang ada rapat di kantor cabang kita di Bandung.”
Oalah…….. ternyata Karno tetap menjadi seorang playboy. Sayang, ia tak lagi menjadi playboy seperti cita-citanya dulu. Ia kini seorang playboy pengecut, yang harus bersembunyi dari amarah isterinya.
Pakubuwono, Februari 2007.


Anton said,
February 18, 2008 at 1:23 pm
cerpennya mantab banget mas…
kalo playboy nya mirip saya, hikksss..
ceritanya sangat menarik untuk dibaca.
salam
-ac-
sabrecs said,
February 27, 2008 at 1:38 am
ini cerpen atau sindiran ya?
sofwan {kalipaksi} said,
March 7, 2008 at 8:01 am
bisa jadi keduanya, Om.
Daftar Link Cerpen Kalipaksi « ruang jurnalisme amatir said,
March 26, 2008 at 9:43 am
[...] 3. Ontel Playboy Desa [...]
Malik said,
March 30, 2008 at 5:23 am
Bagus.
Antara Cinta-Kejujuran-pengabdian pd orang tua. Aku salut begitu baca Cerpen ini. Yach emang begitu kata orang jawa “Jujur yo Ajur” tapi memang harus begitu. si Karno memang jujur pada diri sendiri kalo ia memang PlaBoy, walaupun ia harus menerima akibatnya.
Tapi sayang si Karno,melupakan Onthel kesayangan , begitu jadi Orang. tidak sering diajak keliling-keliling, tapi ngga apalah walaupun cuman Ontel nya kini di bingkai kaca, disudut ruangan pula…
Antara cinta-kejujuran- Dan Onthel
fery(alumni smp 124) said,
May 21, 2008 at 5:01 pm
sof,bagussssss
sepertinya dia bukan play boy lagi tapi buaya yang suka nyaplok apa aja ……..
susie utomo said,
March 23, 2009 at 4:33 am
ha..ha…Si Karno dah ber-evolusi. soale para cewek dah ber-revolusi…
Imam Syatibi said,
June 2, 2009 at 2:46 am
saya suka ceritanya, gan…