Dipo

by: sofwan {kalipaksi}

 

patriot-2.jpg

Sebelas anak muda berpotongan rambut rapi saling berhadapan. Duduk rapi mengitari meja lonjong. Meja ber-lingir ukiran Jepara. Bermotif kembang bakung kontemporer. Motif yang membangkitkan memori Dipo kepada sebuah lagunya “God Bless”: Rumah Kita. Lagu tentang rumah mungil berpekarangan bunga bakung, “Hanya bunga bakung, tumbuh di halaman,” begitu liriknya. Ah … pikiran Dipo jadi melayang . Kata ‘hanya’-nya memancarkan kesan keterpaksaan menanam sekadar bunga di pekarangan sebuah rumah berstatus rendahan.

Kesebelas anak muda itu memang anak-anak orang rendahan. Bapak mereka rata-rata pegawai biasa, ada juga yang buruh petani karet di Lampung dan masinis PJKA yang biasa menggerek rangkaian gerbong kereta ekonomi di sepanjang rel jalur Jakarta-Cirebon. Untungnya perjalanan hidup kesebelas pemuda itu tidak menjadi terlalu biasa-biasa saja: sekolah, lulus, punya ijasah lalu dengannya mencari kerja, walaupun label pada kerah baju mereka tertulis, “aku anak orang biasa.”

Dipo juga anak orang biasa. Apalagi setelah ditinggal wafat Bapaknya yang seorang sopir bus DAMRI, Dipo semakin menjadi anak keluarga biasa. Janda mendiang Bapaknyalah yang kemudian bertungkus lumus menerobos dinding tembok kehidupan yang semakin tebal: berjuang dalam kehidupan agar Dipo dan adiknya yang masih kecil tetap bisa hidup sebagai seorang manusia yang dihargai masa dan massa, hingga di masa besarnya nanti tak lagi menjadi sekadar orang biasa. “Dipo-ku harus menjadi dipo (bermakna: penjaga) sebenar-benarnya dipo,” begitu asa yang keluar dari hati nurani ibu Dipo yang paling dalam.
***
Dipo baru saja menggantung seragam putih abu-abu untuk selamanya. Lagi-lagi, sebagai anak orang biasa, ia lulus biasa-biasa saja. Nilainya pun biasa-biasa saja. “Aku ingin masuk sekolah tinggi tentara, supaya bisa menjadi perwira dipo seperti Kanjeng Pangeran Diponegoro (yang lukisannya terpampang di ruang tamu rumahnya yang bersahaja), menjadi penjaga negara ini.” Sayang, karena Dipo anak orang biasa, dengan nilai biasa juga sehingga tak bisa memenuhi syarat menjadi tentara, ditambah lagi tak punya banyak uang pelicin yang sering diminta para oknum “dipo” di ketentaraan, Dipo lagi-lagi harus berhadapan dengan persimpangan jalan: satunya jalan menjadi orang biasa dan satunya lagi jalan lain yang sayangnya masih terportal. Portal yang belum bisa dibukanya.
Tapi, …. “kamu harus menjadi dipo,” terngiang duplikasi suara Ibu yang kali ini menggelontor keluar dari ruang hati nuraninya. “Bagaimana bisa Ibu, aku anak orang biasa, kemampuanku biasa-biasa saja, koneksiku pun biasa-biasa, ….. bagaimana bisa Ibu?”
“Ibu, aku tidak lulus masuk sekolah tentara. Maafkan aku Ibu. Masihkah aku harus menjadi dipo seperti pesan yang selalu Ibu nasihatkan kepadaku?”
“Sudah tak usah muluk-muluk, kamu ini anak orang biasa, jalani saja hidup ini dengan biasa saja, biarkan mengalir seperti air. Jabang bayi Nabi Musa saja tak pernah minta kotak yang membawanya sampai ke istana Fir’aun. Kalau memang takdirmu menjadi dipo, kamu pasti menjadi dipo. Jadi dipo itu kan tidak selalu harus menjadi tentara. Kamu bisa menjadi dipo untuk Ibumu, menjadi dipo untuk anak dan istrimu kelak. Sudah jangan muluk-muluk,” kalimat yang keluar mulut dari Ibunya cukup menentramkan hatinya.
“Tapi aku tetap harus menjadi dipo, Ibu. Aku tahu kalimat Ibu itu hanya untuk menggembirakan kegundahan hatiku saja,” kali ini hati Dipo bergetar.
***

Sebelas anak muda berpotongan rambut rapi saling berhadapan. Duduk rapi mengitari meja lonjong yang lingir-nya berukiran Jepara bermotif kembang bakung kontemporer. Di sisi kutub meja, yang biasanya diduduki oleh sosok Bapak dalam keluarga atau sosok pemimpin dalam organisasi, di sana duduk sosok Dipo.

Rupanya, Dipo terus menggantang mimpi dan sugesti sang ibu: “Kalau memang takdirmu menjadi dipo, kamu pasti menjadi dipo.” Ah … sebuah sugesti yang sakti menghantarkan Dipo pada posisinya saat duduk di sisi kutub meja lonjong itu, meskipun masih dalam status marginal dari sudut pandang para elit. Ya … Dipo menjadi pimpinan sebuah organisasi buruh yang menjadi onderbow-nya sebuah partai politik anak-anak muda berhaluan kiri. Dipo menjadi bagian dari pemimpin bagi para pemuda proletar yang bermimpi mengganyang sistem yang selama ini mereka anggap telah membuat kehidupan kaum mereka semakin terpinggir dan tersisih dari kembang gula kehidupan sehingga nasib mereka semakin terasa pahit saja.
“Ibu, … aku ingin menjadi manusia yang membela saudara-saudaraku yang orang-orang biasa itu. Buruh-buruh itu kan anak-anak orang-orang biasa, Ibu. Ibu … aku kini menjadi dipo bagi kaumku, kaum yang selalu hidup dalam kegetiran, kebersahajaan, malah terkadang dalam kekurangan.”

Dipo telah merentas karirnya dengan susah payah sehingga posisi pimpinan organisasi setingkat cabang bisa diraihnya. Sesekali wajahnya yang terkesan ‘kampungan’ tapi klimis itu tampak sedang berteriak-teriak dengan megaphone di depan jeruji gerbang Gedung DPR di Senayan.
“Bu, itu Mas Dipo ada di TV,” kata Ranti adiknya semata wayang yang kini mulai tumbuh menjadi seorang gadis beranjak dewasa.
Sayang Dipo tak puas. Di matanya, perjuangannya selalu kandas. “ Lho kok…?”
***

Sebelas anak muda berpotongan rambut rapi saling berhadapan. Duduk rapi mengitari meja lonjong yang lingir-nya berukiran Jepara bermotif kembang bakung kontemporer. “Maaf teman-teman, aku tak bisa lagi berjuang lewat cara ini. Entah sudah berapa ratus kali kita turun ke jalan, berteriak lantang, digebuk aparat, tapi ….”
“Tapi … apa, Mas?” tanya seorang kawan yang anak masinis KA jurusan Jakarta-Cirebon.
“Tetap saja nasib mereka yang kita bela tak kunjung berubah. Entahlah …. sepertinya aku harus mengubah cara perjuanganku. Selama mereka yang masih senang memakan uang rakyat yang bukan haknya masih berkeliaran dengan tenang, sepertinya nasib buruh-buruh yang kita bela akan selalu compang-camping dan kandas. Teriakan kita bagaikan kebisuan di tengah malam yang tak pernah menyentuh daun telinga mereka. Apalagi mengetuk pintu hatinya.”
“Tapi, Mas …..”
“Sudahlah tak usah dibahas, …. ”
***

Dipo banting setir, pindah haluan menjadi aktivis LSM Anti Korupsi, berkat lobinya yang bagus selama ini menjadi pimpinan cabang organisasi buruh tadi. Di LSM ini pula Dipo berkenalan dengan Yayuk, yang kemudian menjadi pendamping hidupnya. Pesta pernikahannya pun digelar sederhana dan biasa saja di rumah mertuanya. Mengingat track record-nya posisi Dipo di LSM barunya itu pun lumayan bagus. Dengan jabatannya itu, apalagi dengan dana besar yang sering didapat LSM, Dipo sekarang mendapat gaji dan fasilitas yang cukup lumayan, bertolak belakang dengan jabatannya di organisasi buruh dulu. Ruangan kerjanya cukup apik, meskipun tidak mewah. Sementara itu, sekarang Dipo sudah bisa membayar cicilan rumah BTN tipe 45 dua unit di kawasan pinggir kota.
Dipo yang hanya lulusan SMA itu pun bisa kuliah malam. Berangkat pagi … pulang malam. Begitu setiap hari. Malah, tak jarang akhir pekannya digunakan untuk menghabiskan waktu menjelajah internet di komputer milik kantor, karena di rumahnya belum ada komputer.
“Mas … kapan waktu buatku,” Yayuk protes padanya suatu ketika. Profesinya sebagai pejuang antikorupsi begitu menghanyutkan alam pikiran Dipo, membawanya kepada sebuah sugesti baru. “Ibu, aku sekarang sedang berlayar dengan kapal yang akan membawaku menjadi orang yang bukan biasa lagi. Ibu aku telah menjadi dipo seperti Pangeran Diponegoro, walaupun caraku berbeda dengan beliau”.
Toh, setelah berjalan beberapa tahun, hati Dipo kembali terusik. Ternyata di lembaga barunya, Dipo justru seperti melihat setan di cermin ketika berkaca di pagi, siang, sore juga di malam hari. Itu terjadi tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali.
Ya … tak semua uang yang dikucurkan lembaga-lembaga donor asing digunakan untuk perjuangan membabat korupsi.
Malah tak jarang beberapa tumpukan lembar rupiah yang ia pergunakan untuk kepentingan dirinya dan keluarganya. Tak jarang juga Dipo harus setuju dan sepakat dalam rapat yang isinya membahas laporan pertanggungjawaban palsu penggunaan dana yang akan disampaikan ke Paris, Berlin atau New York, tempat organisasi donor yang selama ini meng-acc proposal LSM-nya.
“Oh Ibu … mengapa kini aku menjadi bagian orang-orang yang aku perangi?” jerit Dipo di dalam hati. “Bagaimana ini ….?”teriak hati Dipo yang tak pernah bisa disembunyikan.
***

Ramalan astrologi di lembar tengah sebuah koran pagi tentang lelaki Gemini berkata, “Bergegaslah, karena waktu hampir habis menanti keputusan Anda.” Dipo tersentak membacanya. Walaupun ia bukan termasuk penggila ramalan-ramalan seperti itu, entah mengapa beberapa pekan ini ramalan di rubrik “Horoskop Minggu Ini” pada koran itu menyubit-nyubit perasaannya. Minggu sebelumnya, dua puluh kata ramalannya seperti sedang meneropong keharmonisan rumah tangga Dipo. “Asmara: saat ini Anda merasa sepi, sunyi dan sedih. Pergilah ke tempat makan yang romantis berdua saja dengan si dia.” Menuruti kata-kata yang seketika menjadi dianggap sakti itu, berdua dengan isterinya, Dipo makan malam di warung pecel lele tempat kencan pertamanya enam tahun lalu.
Dua sisi kalimat sakti yang saling berjalan dalam arah yang berbeda pun bertarung dalam relung hatinya. “Dipo, Ibumu ingin kamu menjadi dipo” vs “Bergegaslah, karena waktu hampir habis menanti keputusan Anda.”
***
“Pak … tolong bungkuskan pecel lele-nya dua lagi,” katanya kepada pelayan warung.
“Buat siapa, Mas?” tanya Yayuk.
“Buat Ibu dan Ranti. Ayo kita jenguk mereka. Aku kangen, beberapa pekan ini aku tak sempat menjenguk mereka.”
“Ibu … aku tak sanggup. Sekarang aku hanya ingin menjadi dipo bagi keluargaku.”
“Dipo anakku, bukankah sudah Ibu bilang: Jadi dipo itu kan tidak selalu harus menjadi apa dan siapa. Kamu bisa menjadi dipo untuk Ibumu, menjadi dipo untuk anak dan istrimu.”
Dipo terdiam, matanya menerawang jauh ke luar jendela. Tak sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Hati dan alam bawah sadar ideologinya kembali berputar-putar?
***

Depok, Juni 2007

Post a Comment